Anime, bentuk animasi Jepang yang bergaya, telah menarik banyak pengikut di seluruh dunia. Dengan banyaknya judul yang diterjemahkan dan dilokalkan untuk penonton Barat, pelokalan anime telah menjadi subjek kontroversi yang signifikan.

Salah satu alasan utama kontroversi ini adalah bahwa proses pelokalan sering kali mengencerkan makna yang dimaksudkan. Selain itu, karena kebijakan media dan penyensoran di berbagai negara, terkadang konten anime perlu diubah secara mendasar untuk mencegah penonton muda terpapar kekerasan berlebihan atau tema dewasa.
Namun, pelokalan anime menghadirkan banyak tantangan. Artikel ini akan membahas tantangan-tantangan ini dan menyoroti beberapa studi kasus utama kegagalan pelokalan anime. Teruskan membaca untuk mempelajari lebih lanjut!
Tantangan Utama Lokalisasi Anime
Lokalisasi anime lebih dari sekadar penerjemahan kata demi kata; hal ini melibatkan penyesuaian konten untuk meningkatkan dan terkadang mengubah maknanya agar sesuai dengan konteks budaya target. Mengingat hal ini, beberapa tantangan utama dalam lokalisasi anime perlu dipertimbangkan secara saksama. Berikut ini beberapa di antaranya:
- Kebijakan Media: Banyak negara memiliki kebijakan media khusus untuk pemirsa mereka dan untuk konten audiovisual dari wilayah lain. Misalnya, jaringan TV Amerika memiliki kebijakan ketat tentang apa yang dapat dilihat anak-anak. Pada tahun 1960-an, konten asing seperti anime harus sepenuhnya menghapus tema yang terkait dengan kematian atau konten dewasa lainnya. Hal ini meninggalkan lubang plot yang signifikan dan konten yang tidak lengkap bagi pemirsa karena banyak adegan yang dipotong atau dilokalkan secara tidak akurat.
- Lelucon dan Permainan Kata: Selain kebijakan media, menerjemahkan dan melokalisasi lelucon dan permainan kata dalam anime menimbulkan masalah yang signifikan. Menerjemahkan lelucon merupakan tantangan dalam konteks apa pun, tetapi menjadi lebih sulit dalam anime karena lelucon sering kali kehilangan maknanya jika diterjemahkan secara harfiah.
- Pengalihan suara: Pengalihbahasaan menghadirkan tantangan besar lainnya. Jumlah suku kata di setiap baris sering kali harus sesuai dengan gerakan mulut karakter dalam adegan. Penerjemahan kemudian harus disinkronkan dengan gerakan-gerakan ini untuk mencerminkan makna aslinya secara alami. Namun, proses ini sering kali salah dalam anime, yang menyebabkan pengalaman menonton yang buruk.
- Perbedaan Budaya: Perbedaan budaya menimbulkan tantangan mendasar dalam pelokalan anime. Banyak negara Barat menggunakan sensor saat melokalkan serial atau episode anime. Misalnya, penonton Amerika sensitif terhadap tema kekerasan atau kematian, yang sering kali perlu dipotong sepenuhnya dari adegan agar tidak membuat penonton kesal. Perbedaan budaya ini dan lainnya membuat pelokalan anime menjadi rumit dan melelahkan, terutama dalam mempertahankan konsep plot asli.
- Terjemahan Tidak Alami: Terakhir, pelokalan anime terkadang mengalami penerjemahan yang tidak wajar. Karena penerjemahan kata per kata secara langsung seringkali tidak mungkin dilakukan, tujuannya adalah untuk mendapatkan makna yang sedekat mungkin dengan makna aslinya. Namun, hal ini sering kali menghasilkan makna yang tidak jelas dan dapat membingungkan penonton.

Studi Kasus Kegagalan Lokalisasi Anime
Sayangnya, ada banyak studi kasus tentang kegagalan lokalisasi anime di mana penonton mendapati produk yang kehilangan makna yang dimaksudkan. Berikut ini beberapa contoh penting:
- Satu potong: Sementara anime aslinya ditujukan untuk anak-anak dan remaja yang lebih tua, versi lokalnya ditujukan untuk penonton yang lebih muda. Tentu saja, tema kekerasan yang gelap menyebabkan banyak adegan dan elemen plot dihilangkan, yang menyebabkan plot hole dan membingungkan penonton. Selain itu, dialognya sering kali menyimpang sepenuhnya dari maksud aslinya.
- Pembunuh Iblis: Dalam kasus ini, penggemar anime populer di seluruh dunia dibuat bingung oleh judul bahasa Inggris yang absurd dari musim kedua, menyebutnya "mengejutkan" dan "buruk." Ini karena judul aslinya terlalu dewasa untuk versi lokal bahasa Inggris.
- Cerita Hantu: Di sini, masalah sulih suara dengan cepat muncul karena sulih suara bahasa Inggris tidak terlalu mirip dengan aslinya. Hasilnya dijuluki sebagai "parodi".
- Yu-Gi-Oh! dari 4KidsKasus ini menyoroti isu-isu seperti lokalisasi konten dewasa untuk pemirsa yang lebih muda, masalah sulih suara, dan Amerikanisasi nama-nama Jepang.
- Naruto: Dalam anime populer Naruto, banyak adegan perkelahian yang menegangkan dan konten kekerasan yang harus dihilangkan. Mengenai dubbing, hal itu juga bermasalah, yang menyebabkan penggantian lagu pembuka asli dengan dubbing bahasa Inggris baru.
- Pokemon versi Indonesia: Sebagai salah satu waralaba anime terbesar, Pokémon melakukan beberapa kesalahan lokalisasi yang terkait dengan perbedaan budaya. Misalnya, bola nasi diganti dengan donat jeli, dengan asumsi penonton muda Amerika tidak tahu apa itu bola nasi. Namun, jelas dalam adegan itu bahwa tidak ada donat jeli, sehingga kesalahan lokalisasi ini menjadi penting.
- Pembalap Kecepatan:Dari mengubah nama serial secara total hingga sinkronisasi bibir yang buruk, banyak pemirsa merasa kalimatnya dipercepat dan tidak masuk akal.
- Pelaut Bulan: Tantangan dalam melokalkan Sailor Moon meliputi perubahan pada versi aslinya, seperti nama-nama yang berbau Barat, mengubah dialog, bahasa gaul yang ketinggalan zaman, dan penyensoran yang berlebihan.
- Penangkap Kartu:Selain perubahan judul dan lagu tema Amerika, ada sensor ketat, dengan hampir semua jejak romansa dihilangkan, yang menyebabkan beberapa episode dipotong seluruhnya.
- Kekuatan Berkilau: Masalah Shiny Force meluas hingga ke banyak perubahan sehingga hampir tidak dapat dikenali dari versi aslinya. Selain itu, dialognya dianggap "mengerikan", dan unsur-unsur budaya Jepang dihilangkan.
- Kekuatan Mew Mew: Dalam anime ini, semua karakter diberi nama baru yang tidak pantas, poin-poin plot yang signifikan dihilangkan, penyensoran ketat, dan dub lagu tema dianggap gagal total.
Pemikiran Akhir
Lokalisasi anime bisa sangat ampuh dan efektif dalam menjangkau pemirsa global baru. Namun, upaya lokalisasi yang buruk tentu saja dapat meninggalkan kesan buruk di benak pemirsa yang ingin merasakan suasana, alur cerita, tema, musik, nama karakter, dan nuansa budaya yang asli. Dengan mengingat hal ini, lokalisasi anime harus mempertimbangkan berbagai faktor untuk menciptakan pengalaman menonton yang lancar dan menyenangkan, alih-alih mengasingkan pemirsa melalui dubbing yang salah, penyensoran yang berlebihan, penerjemahan langsung, dan kesalahan lainnya.