Tato memegang peranan penting dalam jalinan rumit budaya Tiongkok, yang terjalin melalui ribuan tahun sejarah, tradisi, dan evolusi masyarakat. Tertanam dengan simbolisme, makna budaya, dan ekspresi artistik, tato dalam budaya Tiongkok telah melampaui sekadar hiasan tubuh dan menjadi lambang identitas, warisan, dan narasi pribadi. Dalam mengeksplorasi jalinan tato yang kaya dalam masyarakat Tiongkok, seseorang menemukan interaksi yang bernuansa antara adat istiadat kuno dan interpretasi kontemporer, yang mencerminkan sifat dinamis ekspresi budaya. Dari praktik ritual peradaban kuno hingga interpretasi modern tentang ekspresi diri, perjalanan tato dalam budaya Tiongkok menawarkan lensa yang memikat untuk mengeksplorasi persimpangan tradisi, simbolisme, dan individualitas. Esai ini menyelidiki dunia tato yang beraneka ragam dalam budaya Tiongkok, menelusuri akar sejarahnya, meneliti maknanya yang terus berkembang, dan merenungkan relevansinya yang abadi dalam masyarakat saat ini.
Kata Bahasa Cina untuk Tato
- 纹身 (wén shēn): Ini adalah cara yang paling umum dan diterima secara luas untuk mengatakan "tato" dalam bahasa Mandarin. Secara harfiah, ini berarti "tubuh yang dihias."
- 刺青 (cì qīng): Ini adalah istilah yang lebih tradisional yang secara harfiah berarti "tusukan biru-hijau." Istilah ini merujuk pada metode tradisional pembuatan tato menggunakan tinta yang terbuat dari tanaman. Meskipun masih dipahami, 纹身 (wén shēn) adalah istilah yang lebih disukai dalam bahasa Mandarin modern.
Asal usul tato di Tiongkok
Asal usul tato di Tiongkok sudah ada sejak ribuan tahun lalu, dengan bukti yang menunjukkan keberadaannya dalam budaya dan peradaban kuno. Praktik tato di Tiongkok telah didokumentasikan sejak periode Neolitikum, dengan penemuan arkeologi yang mengungkap sisa-sisa mumi yang dihiasi dengan desain tato yang rumit.
Selama Dinasti Shang (1600–1046 SM), tato lazim di kalangan kelompok suku tertentu. Tato-tato ini sering kali memiliki makna simbolis, yang mewakili aspek identitas, status sosial, dan kepercayaan spiritual. Tato digunakan untuk menandai individu sebagai anggota suku atau klan tertentu, serta untuk menunjukkan prestasi, pencapaian, atau peristiwa penting dalam hidup.
Tato juga dikaitkan dengan ritual perdukunan dan praktik keagamaan pada masa itu. Dukun, atau pemimpin spiritual, diyakini memiliki kekuatan supranatural, dan tato berfungsi sebagai sarana komunikasi dengan dunia roh atau sebagai simbol perlindungan terhadap kekuatan jahat.
Sepanjang sejarah Tiongkok, seni tato terus berkembang dan beradaptasi, mencerminkan perubahan norma budaya, struktur sosial, dan preferensi artistik. Selama Dinasti Han (206 SM–220 M), seni tato menjadi populer di kalangan segmen masyarakat tertentu, termasuk tentara, penjahat, dan penghibur. Tato digunakan untuk menunjukkan pangkat militer, menandai penjahat sebagai hukuman, atau menghiasi pemain untuk keperluan teater.
Meskipun popularitas dan penerimaan sosialnya sempat berfluktuasi, tato tetap menjadi bagian dari budaya Tiongkok, meskipun sering kali terpinggirkan di masyarakat. Baru pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, tato kembali populer di Tiongkok, didorong oleh globalisasi, pertukaran budaya, dan perubahan sikap terhadap ekspresi diri.
Simbolisme Budaya dan Makna di Balik Tato Tiongkok
Tato Tiongkok tidak hanya menarik secara estetika, tetapi juga memiliki makna dan simbolisme budaya yang dalam. Berikut ini adalah beberapa simbol penting dan makna di balik tato Tiongkok:
1. Naga (龙 – lóng): Naga adalah makhluk yang dipuja dalam budaya Tiongkok, melambangkan kekuatan, kekuasaan, dan keberuntungan. Naga sering dikaitkan dengan kaisar dan mewakili otoritas dan perlindungan kekaisaran. Tato naga menandakan keberanian, kebijaksanaan, dan keberuntungan.

2. Phoenix (凤凰 – fènghuáng): Phoenix adalah burung mistis yang melambangkan kelahiran kembali, pembaruan, dan keabadian. Burung ini sering digambarkan dengan bulu yang berwarna cerah dan melambangkan keindahan, keanggunan, dan harmoni. Tato burung phoenix menyampaikan tema ketahanan, transformasi, dan mengatasi kesulitan.

3. Harimau (虎 – hǔ): Harimau memegang peranan penting dalam simbolisme Tiongkok, yang melambangkan keberanian, kekuatan, dan perlindungan. Tato harimau melambangkan keberanian, keganasan, dan dominasi. Tato harimau juga dikaitkan dengan kualitas kesetiaan, kemandirian, dan tekad.

4. Bunga Teratai (莲花 – liánhuā): Bunga teratai merupakan simbol penting dalam budaya Tiongkok, yang melambangkan kemurnian, pencerahan, dan pertumbuhan spiritual. Meskipun tumbuh di air berlumpur, bunga teratai muncul dalam keadaan murni dan indah, yang melambangkan perjalanan menuju pencerahan dan kedamaian batin. Tato bunga teratai menyampaikan tema ketahanan, kemurnian, dan pertumbuhan pribadi.

5. Ikan Koi (锦鲤 – jǐnlǐ): Ikan koi sangat dihormati dalam simbolisme Tiongkok karena kecantikan, kekuatan, dan kegigihannya. Legenda mengatakan bahwa ikan koi memiliki kemampuan untuk berubah menjadi naga, yang melambangkan ambisi, tekad, dan kesuksesan. Tato ikan koi melambangkan mengatasi kesulitan, mencapai tujuan, dan kemakmuran.

6. Aksara Cina dan Kaligrafi (汉字和书法 – hànzì hé shūfǎ): Aksara Cina dan kaligrafi sering kali dimasukkan ke dalam tato untuk menyampaikan kata-kata, frasa, atau sentimen yang bermakna. Setiap aksara memiliki makna tersendiri dan dapat mewakili kebajikan, berkah, atau mantra pribadi. Pilihan umum meliputi kata-kata seperti “cinta” (爱), “kekuatan” (力量), “harmoni” (和谐), dan “keberuntungan” (福).
7. Yin dan Yang (阴阳 – yīn yáng): Konsep Yin dan Yang merupakan dasar dari filosofi Tiongkok, yang melambangkan dualitas dan keseimbangan kekuatan yang saling bertentangan di alam semesta. Yin melambangkan aspek pasif, feminin, dan reseptif, sedangkan Yang melambangkan aspek aktif, maskulin, dan tegas. Tato Yin dan Yang melambangkan harmoni, keseimbangan, dan keterhubungan semua hal.
Simbol-simbol ini hanyalah beberapa contoh dari kekayaan simbolisme dan makna budaya di balik tato Tiongkok. Setiap desain memiliki makna dan interpretasi pribadi tersendiri, yang berfungsi sebagai ekspresi kuat identitas, budaya, dan perjalanan pribadi.
Perubahan Sikap Masyarakat Tiongkok terhadap Tato
Sikap masyarakat Tiongkok terhadap tato telah mengalami perubahan signifikan selama bertahun-tahun, yang mencerminkan pergeseran nilai-nilai sosial, pengaruh budaya, dan perspektif generasi. Secara tradisional, tato sering dikaitkan dengan kriminalitas, pemberontakan, atau penyimpangan sosial, yang menyebabkan stigma seputar seni tubuh dalam masyarakat Tiongkok. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sikap telah berevolusi secara bertahap, didorong oleh beberapa faktor utama:
- Pertukaran Budaya dan Globalisasi: Meningkatnya paparan terhadap budaya Barat melalui globalisasi, perjalanan internasional, dan internet telah memainkan peran penting dalam mengubah persepsi tentang tato di kalangan masyarakat Tiongkok. Media Barat, selebritas, dan ikon budaya pop yang dengan bangga memamerkan tato telah membantu menormalkan seni tubuh dan menantang stereotip tradisional yang terkait dengannya.
- Budaya Pemuda dan Ekspresi Diri: Khususnya kaum muda Tiongkok, telah menerima tato sebagai bentuk ekspresi diri, individualitas, dan pemberontakan terhadap norma-norma masyarakat. Bagi banyak kaum muda, tato berfungsi sebagai sarana untuk menegaskan identitas mereka, mengekspresikan kreativitas mereka, dan membedakan diri mereka dari generasi sebelumnya. Platform media sosial juga telah memainkan peran penting dalam memopulerkan tato di kalangan kaum muda Tiongkok, menyediakan ruang untuk berbagi desain tato, pengalaman, dan inspirasi.
- Apresiasi Artistik dan Tren Estetika: Seiring dengan berubahnya persepsi tentang tato, apresiasi terhadap aspek artistik dan estetika seni tubuh pun semakin meningkat di masyarakat Tiongkok. Seniman tato semakin dikenal sebagai seniman terampil, dan tato dipandang sebagai bentuk seni dan ekspresi diri yang sah. Hal ini menyebabkan budaya tato berkembang pesat di pusat-pusat kota di seluruh Tiongkok, dengan semakin banyaknya tempat tato dan beragam gaya serta desain.
- Perubahan Norma Sosial dan Penerimaan: Seiring berjalannya waktu, tato mulai diterima secara bertahap di masyarakat umum Tiongkok, terutama di kalangan generasi muda. Meskipun tato mungkin masih membawa stigma, tato tidak lagi secara otomatis dikaitkan dengan kriminalitas atau penyimpangan. Sebaliknya, tato semakin dilihat sebagai pilihan pribadi dan bentuk perhiasan, seperti perhiasan atau aksesori mode.
- Pertimbangan Profesional dan Budaya Tempat Kerja: Meskipun sikap telah berubah, masih ada pertimbangan praktis bagi individu bertato, khususnya di lingkungan profesional. Beberapa pemberi kerja mungkin memiliki aturan berpakaian yang ketat atau sikap konservatif terhadap tato yang terlihat, yang dapat memengaruhi prospek karier atau penerimaan sosial. Akibatnya, individu mungkin memilih untuk menyembunyikan tato mereka atau memilih posisi yang dapat dengan mudah ditutupi di lingkungan profesional.
Singkatnya, sikap orang Tionghoa terhadap tato telah mengalami evolusi yang signifikan, dari stigma dan tabu menjadi penerimaan dan apresiasi yang lebih besar. Meskipun persepsi tradisional mungkin masih melekat di beberapa kalangan, terutama di kalangan generasi yang lebih tua, tato telah menjadi semakin umum dan relevan secara budaya dalam masyarakat Tionghoa kontemporer, yang mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam norma sosial, pengaruh budaya, dan nilai-nilai generasi.
Tato Paling Terkenal dalam Sejarah Tiongkok
Salah satu tato paling terkenal dalam sejarah Tiongkok adalah tato jenderal legendaris Yue Fei (岳飞). Yue Fei adalah seorang pemimpin militer dan pahlawan nasional pada masa Dinasti Song Selatan (1127–1279). Ia dipuji karena kesetiaannya, patriotismenya, dan dedikasinya yang tak tergoyahkan kepada negaranya.
Tato Yue Fei yang paling terkenal adalah empat karakter Tiongkok “精忠报国” (jīng zhōng bào guó), yang berarti “kesetiaan dan patriotisme” atau “melayani negara dengan kesetiaan tertinggi.” Menurut legenda, karakter-karakter ini ditato di punggungnya oleh ibunya sebelum ia meninggalkan rumah untuk bergabung dengan militer. Tato tersebut berfungsi sebagai pengingat akan tugasnya terhadap negaranya dan tekadnya untuk mempertahankannya dari penjajah.

Kesetiaan Yue Fei terhadap Dinasti Song Selatan tidak tergoyahkan, dan ia memainkan peran penting dalam melawan serbuan Dinasti Jin yang dipimpin Jurchen. Ia memimpin pasukannya dalam beberapa operasi militer yang berhasil, merebut kembali wilayah yang hilang, dan menggalang dukungan rakyat untuk melawan penjajah Jin.
Meskipun sukses di bidang militer, Yue Fei menghadapi intrik politik dan pengkhianatan dari dalam istana Song. Ia dituduh melakukan pengkhianatan dan dieksekusi pada tahun 1142 pada usia 39 tahun. Namun, warisannya tetap hidup sebagai simbol kesetiaan, patriotisme, dan perlawanan yang benar terhadap tirani.
Kisah Yue Fei dan tatonya yang terkenal telah diabadikan dalam cerita rakyat, sastra, dan budaya populer Tiongkok. Sosoknya sering digambarkan dalam seni, sastra, dan media sebagai simbol keberanian, integritas, dan kebanggaan nasional. Empat karakter “精忠报国” telah menjadi ikon, yang mewakili nilai-nilai abadi kesetiaan dan patriotisme dalam sejarah dan budaya Tiongkok.
Pada hakikatnya, tato dalam budaya Tiongkok berfungsi sebagai bukti nyata dari interaksi rumit antara tradisi dan modernitas, memori kolektif, dan ekspresi individu. Seiring Tiongkok terus mengalami transformasi sosial, ekonomi, dan budaya yang mendalam, tato berfungsi sebagai refleksi yang menyentuh tentang identitas, kepemilikan, dan pencarian abadi akan makna dalam dunia yang terus berubah. Melalui narasi yang dilukis, tato dalam budaya Tiongkok menjembatani masa lalu dengan masa kini, menjalin benang warisan ke dalam jalinan kehidupan kontemporer.