chinese work culture -- cover

Budaya Kerja Tiongkok

China, dengan sejarahnya yang kaya dan masyarakatnya yang dinamis, memiliki budaya kerja yang berakar kuat pada tradisi, namun terus berkembang secara dinamis di era modern. Memahami budaya kerja China sangat penting bagi siapa pun yang terlibat dalam usaha bisnis atau profesional di China atau dengan rekan kerja China. Esai ini membahas seluk-beluk budaya kerja China, mengeksplorasi karakteristik, dinamika, etiket bisnis, dan perbedaannya dengan budaya kerja Barat.

Apa itu Budaya Kerja Tiongkok?

Inti dari budaya kerja Tiongkok adalah jalinan tradisi dan nilai-nilai sosial selama berabad-abad. Inti dari budaya ini adalah kolektivisme, di mana tujuan kolektif kelompok sering kali menggantikan aspirasi individu. Penekanan pada keharmonisan kelompok ini menumbuhkan rasa persatuan dan kohesi di tempat kerja, yang berkontribusi pada pendekatan berorientasi tim yang kuat terhadap tugas dan proyek.

Hirarki juga memainkan peran penting, dengan rasa hormat terhadap otoritas yang sangat mengakar dalam masyarakat Tiongkok. Atasan diberi rasa hormat dan penghormatan, dan keputusan sering dibuat berdasarkan konsensus daripada inisiatif individu. Struktur hierarki ini mendorong stabilitas dan ketertiban dalam organisasi, tetapi juga dapat menciptakan tantangan bagi inovasi dan kreativitas, karena karyawan dengan jabatan lebih rendah mungkin ragu untuk menantang otoritas.

Dinamika Budaya Kerja Tiongkok

Budaya kerja di Tiongkok merupakan perpaduan yang menarik antara nilai-nilai tradisional dan praktik-praktik modern, yang dibentuk oleh sejarahnya yang kaya dan perkembangan ekonomi yang pesat. Berikut ini adalah uraian beberapa dinamika utama

Sistem Jam Kerja 1.996 :

Sistem jam kerja 996 telah menarik perhatian signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya di industri teknologi. Sistem ini mengharuskan bekerja dari pukul 9:00 pagi hingga 9:00 malam, enam hari seminggu, yang mencerminkan budaya kerja keras dan dedikasi. Para pendukung berpendapat bahwa sistem ini mendorong produktivitas dan inovasi, sementara para kritikus menyuarakan kekhawatiran tentang keseimbangan kehidupan kerja dan kesejahteraan karyawan. Meskipun ada kontroversi, budaya 996 tetap ada di banyak perusahaan Tiongkok, yang mencerminkan nilai yang diberikan pada ketekunan dan komitmen terhadap pekerjaan seseorang.

2. Tidur siang diperbolehkan:

Berbeda dengan norma-norma Barat, di mana tidur siang di tempat kerja mungkin dianggap tidak baik, budaya kerja Tiongkok mendukung praktik tidur siang. Dikenal sebagai "wu shui," atau tidur siang, praktik ini diterima secara budaya dan bahkan dianjurkan di beberapa tempat kerja. Tidur siang dipandang sebagai cara untuk mengisi ulang tenaga dan meningkatkan produktivitas, sejalan dengan penekanan Tiongkok pada pemeliharaan kesejahteraan fisik dan mental untuk meningkatkan kinerja kerja.

3.Ketepatan waktu:

Ketepatan waktu sangat dijunjung tinggi dalam budaya kerja Tiongkok, yang mencerminkan rasa hormat terhadap waktu orang lain dan kepatuhan terhadap jadwal. Datang terlambat ke rapat atau janji temu dianggap tidak sopan dan dapat merusak reputasi seseorang. Penekanan pada ketepatan waktu ini menggarisbawahi pentingnya keandalan dan profesionalisme dalam interaksi bisnis, yang memperkuat gagasan "waktu adalah uang" dalam konteks Tiongkok.

4.Berorientasi pada KPI dan Tujuan:

Budaya kerja orang Tionghoa dicirikan oleh fokus yang kuat pada Indikator Kinerja Utama (KPI) dan perilaku yang berorientasi pada tujuan. Karyawan sering dievaluasi berdasarkan metrik yang dapat diukur, seperti target penjualan atau tenggat waktu proyek, yang mendorong pendekatan yang berorientasi pada hasil dalam bekerja. Penekanan pada akuntabilitas dan hasil yang terukur ini sejalan dengan tujuan yang lebih luas untuk mencapai kesuksesan dan mendorong pertumbuhan bisnis.

Memahami dinamika ini memberikan wawasan berharga tentang nilai dan praktik yang membentuk budaya kerja Tiongkok. Sementara sistem jam kerja 996 jam mencerminkan budaya kerja keras dan dedikasi, penerimaan tidur siang menyoroti pentingnya kesejahteraan holistik. Ketepatan waktu menggarisbawahi rasa hormat terhadap waktu, sementara fokus pada KPI menekankan akuntabilitas dan hasil. Dengan menavigasi dinamika ini dengan kepekaan dan kesadaran budaya, individu dan organisasi dapat menjalin hubungan yang sukses dan berkembang dalam lanskap bisnis Tiongkok yang dinamis.

illustration

Etika Bisnis di Tiongkok

Etika bisnis di Tiongkok sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Konfusianisme tradisional, yang menekankan rasa hormat, hierarki, dan hubungan. Memahami dan mematuhi adat istiadat ini dapat menjadi hal yang penting untuk membangun hubungan bisnis yang sukses di Tiongkok. Berikut ini adalah beberapa aspek utama etika bisnis di Tiongkok:

  • Membangun Hubungan (Guanxi): Membangun kepercayaan dan memupuk hubungan pribadi (guanxi) merupakan hal yang terpenting dalam budaya bisnis Tiongkok. Hal ini melibatkan investasi waktu untuk mengenal rekan bisnis Tiongkok Anda, baik secara profesional maupun pribadi. Membangun kepercayaan sering kali mendahului transaksi bisnis, dan menjaga hubungan jangka panjang lebih dihargai daripada keuntungan jangka pendek.
  • Hirarki dan Rasa Hormat: Masyarakat Cina sangat menekankan hierarki dan rasa hormat terhadap otoritas. Penting untuk menunjukkan rasa hormat terhadap senioritas dan menyapa seseorang dengan gelar dan sebutan kehormatan yang sesuai. Dalam lingkungan bisnis, keputusan sering kali dibuat oleh eksekutif senior, jadi penting untuk melibatkan orang dengan jabatan tertinggi yang hadir.
  • Kartu Nama (Meishi): Bertukar kartu nama merupakan praktik umum di Tiongkok dan harus dilakukan dengan kedua tangan sebagai tanda penghormatan. Saat menerima kartu nama, luangkan waktu untuk memeriksanya sebelum meletakkannya dengan hati-hati di atas meja di depan Anda. Hindari menulis atau melipat kartu, karena dianggap tidak sopan.
  • Etika Makan: Pertemuan bisnis di Tiongkok sering kali berlangsung sambil makan, dan etika makan itu penting. Tuan rumah biasanya memesan makanan untuk meja, dan sebaiknya Anda menunggu mereka mulai makan sebelum Anda mulai makan. Saat bersulang (ganbei), angkat gelas Anda sedikit lebih rendah dari gelas orang tua Anda, dan minumlah sedikit demi sedikit daripada menghabiskannya sekaligus.
  • Pemberian Hadiah: Memberikan hadiah merupakan praktik umum dalam budaya bisnis Cina dan dapat membantu menumbuhkan niat baik. Saat memberikan hadiah, biasanya menggunakan kedua tangan dan menunjukkan kerendahan hati, dengan menekankan perhatian dari gerakan tersebut daripada nilai uangnya. Hindari memberikan hadiah dalam bentuk set yang terdiri dari empat hadiah, karena angka empat dikaitkan dengan kematian.
  • Gaya Komunikasi: Komunikasi orang Cina cenderung tidak langsung, dengan penekanan pada keharmonisan dan menghindari konfrontasi. Perhatikan isyarat non-verbal dan pahami maksud tersirat selama negosiasi. Selain itu, penting untuk menjaga sikap tenang dan kalem, bahkan dalam situasi yang menantang.
  • Menindaklanjuti: Setelah pertemuan atau negosiasi bisnis, penting untuk segera menindaklanjutinya dengan ucapan terima kasih atau email. Mengungkapkan rasa terima kasih atas kesempatan untuk bertemu dan menegaskan kembali komitmen Anda terhadap hubungan tersebut menunjukkan ketulusan dan profesionalisme.

Dengan memahami dan menghormati norma-norma budaya ini, Anda dapat menavigasi seluk-beluk etika bisnis Tiongkok dan membangun hubungan yang kuat dan langgeng dengan rekan-rekan Tiongkok Anda.

Perbedaan Antara Budaya Kerja Tiongkok dan Barat

1. Hirarki

Hirarki sangat mengakar dalam budaya tempat kerja Tiongkok, yang mencerminkan masyarakat terstruktur di mana karyawan biasanya mematuhi pedoman tanpa pertanyaan, terutama jika mereka masih dalam tahap belajar. Para pekerja magang biasanya menyerap pengetahuan dari mentor dan berfokus pada pelaksanaan tugas yang diberikan dengan tekun sebelum memberanikan diri untuk menyampaikan pendapat mereka. Sementara staf tingkat pemula mungkin awalnya tidak merasa nyaman untuk menyarankan ide-ide inovatif karena norma budaya, karyawan yang berpengalaman sering kali diberi wewenang untuk mengambil peran pengambilan keputusan setelah mereka memperoleh kepercayaan dan keahlian.

2. Lembur

Praktik lembur di Tiongkok berbeda secara signifikan dengan praktik di negara-negara Barat, di mana jam kerja tetap 8 jam sehari merupakan norma dan lembur relatif jarang. Dalam budaya kerja Tiongkok, khususnya dalam industri seperti teknologi, lembur sering kali dipandang sebagai bentuk komitmen dan dedikasi. Meskipun sebelumnya diterima secara luas, semakin banyak pekerja Tiongkok kini mencari posisi dengan jam kerja tetap, yang mencerminkan perubahan sikap terhadap keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Meskipun peraturan hukum menetapkan jam kerja 8 jam sehari, penegakannya masih longgar, yang menyoroti meningkatnya kesadaran dan keinginan untuk memperbaiki kondisi kerja di antara karyawan.

3. Pentingnya gelar di Tiongkok

Pentingnya jabatan memiliki bobot yang cukup besar dalam dinamika tempat kerja di Tiongkok, yang membentuk cara karyawan berinteraksi dengan manajer mereka. Tidak seperti di budaya Barat di mana jabatan mungkin kurang penting, di Tiongkok, terdapat penghormatan yang kuat terhadap struktur hierarki. Selama rapat, karyawan sering kali memberikan penghormatan yang besar kepada posisi manajer, yang menekankan pentingnya mengakui otoritas dan ide mereka. Nuansa budaya ini menggarisbawahi peran penting hierarki dalam membentuk hubungan interpersonal di tempat kerja.

4. Kerendahan hati di tempat kerja

Kerendahan hati merupakan nilai fundamental dalam budaya tempat kerja di Tiongkok, yang berakar pada etos kolektivisme yang telah merasuki masyarakat selama berabad-abad. Dengan menekankan pentingnya keberhasilan kelompok dibandingkan pencapaian individu, karyawan sering kali meremehkan pencapaian pribadi dalam lingkungan tim untuk menjaga keharmonisan dan menghindari kehilangan muka di hadapan rekan kerja mereka. Sebaliknya, budaya Barat mungkin lebih menekankan pada pencapaian individu, yang mengarah pada persepsi yang berbeda tentang kerendahan hati. Nuansa budaya ini memengaruhi bagaimana kerendahan hati dipraktikkan dan dipersepsikan di berbagai wilayah di dunia.

5. Budaya Kerja 996

Budaya kerja 996 yang lazim di perusahaan TI Tiongkok telah menuai perhatian dan kritik yang luas. Dinamakan berdasarkan jadwalnya yang melelahkan, yaitu dari jam 9:00 pagi hingga 9:00 malam, enam hari seminggu, dengan total 72 jam, sistem 996 telah dikritik karena mirip dengan "perbudakan modern" karena mengabaikan undang-undang ketenagakerjaan dan berdampak buruk pada kesehatan dan kesejahteraan pekerja. Meskipun protes dan seruan untuk perubahan terus meningkat, budaya 996 yang terus berlanjut menggarisbawahi tantangan yang sedang berlangsung seputar keseimbangan kehidupan dan pekerjaan dalam ekonomi Tiongkok yang berkembang pesat.

Kesimpulannya, budaya kerja Tiongkok merupakan jalinan multifaset yang dijalin dari tradisi, nilai-nilai sosial, dan pengaruh modern. Memahami nuansa budaya kerja Tiongkok sangat penting untuk komunikasi, kolaborasi, dan kesuksesan yang efektif di dunia yang mengglobal. Dengan merangkul dinamika, etiket, dan perbedaan budaya kerja Tiongkok, individu dan organisasi dapat menavigasi kompleksitas berbisnis di Tiongkok dengan percaya diri dan rasa hormat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian